Ahli Geologi Pun Belum Sepakati Penyebab Lumpur Lapindo SIDOARJO, PATROLI. Hingga saat ini, masih terdapat dua pendapat dari para ahli geologi atas penyebab semburan lumpur Sidoarjo. Pendapat pertama, lumpur menyembur akibat kesalahan pengeboran atau under ground blow out. Pendapat kedua, karena fenomena alam terbentuknya gunung lumpur atau mud volcano. Jika gejala ini dipastikan karena under ground blow out, semburan itu dimungkinkan dapat ditutup menggunakan teknologi relief well (pengeboran miring). Tetapi jika merupakan fenomena mud volcano, maka penanganan yang paling riil adalah mengalirkan lumpur ke laut
Dalam satu seminar di Surabaya beberapa waktu lalu, Dr Ir Rudi Rubiandini, ahli bidang perminyakan yang juga pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB), mempunyai keyakinan semburan lumpur bisa dihentikan dengan menggunakan metode relief well yang dilakukan secara bersamaan di beberapa titik. Meski metode relief well pernah dilakukan untuk menutup semburan lumpur Sidoarjo, tetapi saat itu proses kerja relief well belum tuntas dan berhenti di tengah jalan. Rig relief well yang didatangkan dari Australia sebenarnya telah melakukan kinerja di lapangan selama enam bulan, tetapi pengeboran yang dilakukan baru sekitar dua bulan. Rig milik Pertamina hanya bisa melakukan pengeboran selama dua minggu. Menurut Rudi, di dalam dunia engineering hanya ada dua kemungkinan, hasilnya nol atau 100 persen. Tetapi dari pengalaman yang dilakukan oleh para ahli pengeboran, tidak ada relief well di Indonesia yang gagal, seperti semburan gas di Cepu, Subang, Kuala Simpang, dan lain-lain berhasil ditutup melalui relief well. Pakar geologi dari ITB, Prof Dr HP Koesoemadinata mengatakan teori-teori geologi masih belum mampu menjelaskan dengan pasti mengapa semburan lumpur itu terjadi. Tetapi kalau dilihat dari segi gejala di permukaan semburan lumpur, memang ada yang sesuai dengan mud volcano. Sebenarnya, gejala mud volcano sudah lama dikenal di Indonesia, namun tidak banyak diperhatikan. Koesoemadinata juga pernah menyaksikan langsung mud volcano yang terjadi di Kepulauan Kei pada tahun 1984, sampai memunculkan pulau baru. Masalahnya, dalam kasus mud volcano yang terjadi di Sidoarjo, lokasinya dekat dengan sumur Banjar Panji-1 (BPJ-1), dan bersamaan dengan proses pemboran. “Saya tidak tahu apakah ini terjadi karena kebetulan, atau memang ada hubungannya dengan pengeboran sumur BPJ-1,” kata Koesoemadinata. Di samping itu, kalau melihat peta geologi, posisi pusat semburan lumpur Sidoarjo tidak tepat pada garis lurus sesar Watukosek, antara Gunung Penanggungan, Gunung Welirang, dan Gunung Arjuno. “Kalau saya lihat arahnya, posisi lumpur Sidoarjo tidak tepat di garis itu,” katanya.
“Mud Volcano” Sementara itu, pendapat berbeda diungkapkan oleh Prof Dr Sukendar Asikin, Guru Besar Geologi yang juga dari ITB. Ia menyatakan bahwa lumpur keluar karena adanya gerak tektonik di bawah permukaan tanah. Gerak itu terjadi karena Porong memang terletak di atas zona patahan Watukosek. Patahan ini berada pada sabuk patahan Australia dan Pasifik yang terus bergerak hingga 5,3 cm/tahun. Ketika patahan saling bertumbuk, lumpur mencari jalan keluar melalui rekahan yang ada. Dr. Agus Guntoro, Ketua Jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti, Jakarta, mengatakan fenomena mud volcano bisa dilihat dari sisi besaran volume semburan yang keluar secara konstan. Kasus di Porong, rata-rata lumpur yang keluar setara dengan 1.006.400 barel/hari, dan itu tanpa harus dipompa. Kalau dibandingkan dengan produksi rata-rata minyak Indonesia sekitar 1 juta barel/hari, dihasilkan dari sekitar 90.000 sumur. Dan di sumur pengeboran, minyak keluar harus dengan dipompa. “Di bawah permukaan tanah yang keluar lumpur, ada suatu tekanan yang sangat kuat mendorong lumpur keluar. Tekanan yang begitu besar dan kontinyu itu hanya bisa dihasilkan oleh alam,” kata Agus. Hal yang sama dikatakan Adriano Manzini, geolog dari Universitas Oslo, Norwegia. Manzini yang sudah meneliti tentang mud volcano selama sebelas tahun lebih di hampir seluruh belahan dunia, mengatakan bahwa lumpur Sidoarjo sudah mencukupi syarat disebut mud volcano. Alasannya, temperatur lumpur Sidoarjo di permukaan mencapai sekitar 100 derajat Celcius. Itu artinya, jauh di bawah permukaan tanah ada kantung magma yang bekerja. Manzini telah tiga kali datang ke Indonesia untuk meneliti lumpur Sidoarjo, dan kali ini ia menganalisa lumpur dengan metode helium. Amanda Clarke, pakar geologi dan gunung berapi dari Arizona State University, AS, dua kali datang ke Sidoarjo untuk meneliti lumpur. “Fenomena lumpur Sidoarjo ini banyak terjadi di dunia,” kata Amanda Clarke yang sejak tahun 2003 menjadi Assistant Professor, School of Earth and Space Exploration (SESE), Arizona State University. Ia menambahkan, dari peta geologi, posisi titik semburan lumpur Sidoarjo berada pada garis lurus antara Gunung Penanggungan, Gunung Welirang dan Gunung Arjuno, yang dikenal dengan Sesar Watukosek. Di antara dua gunung tersebut terdapat lapisan tanah yang lemah dan tipis, sehingga air bisa menembus ke atas. Di dunia, terdapat sekitar 700 gunung lumpur, dan 300 gunung di antaranya terdapat di sebelah timur Azerbaijan dan di Laut Kaspia. Selebihnya tersebar di Eropa, Asia, Amerika Utara, Amerika Selatan dan Afrika. Di Eropa, antara lain terdapat di sebelah tenggara Ukraina, Italia dan Sicilia. Sedangkan di Asia, terdapat di Iran, Pakistan, China dan beberapa negara lainnya. Dari Jakarta dilaporkan, Sekretaris Kabinet (Seskab) Sudi Silalahi berjanji akan berupaya menyelesaikan proses pembayaran ganti rugi kepada korban lumpur Lapindo, kalau bisa pada Rabu (11/6) malam. Sebelum mencairkan dana, pemerintah akan merevisi payung hukumnya dulu sehingga ada kepastian hukum, yaitu Pasal 15 Perpres No 14 Tahun 2007, dengan memasukkan tiga desa ke dalam peta terdampak lumpur Lapindo, yaitu Besuki, Kedung Jangkring dan Pejarakan. Sebelumnya, Rabu (11/6) siang, sejumlah delegasi warga korban lumpur Lapindo, didampingi anggota DPR dari Fraksi PKS Suripto, menemui Sudi Silalahi. |