in ,

Mengukur Jadi-tidaknya Piala Dunia U-20, Oleh:Yesayas Oktavianus

Sumber : tribunnews.com

Indonesia diberikan kepercayaan oleh pihak luar menjadi tempat diselenggarakannya acara tersebut begitu bahagianya Indonesia. Walaupun begitu ada rasa pesimis juga dalam hal ini walaupun penyelenggaraan masih tahap junior.

Bagi pihak Indonesia, mencetak prestasi justru sangatlah penting dalam ajang ini. Karena itu, ketua pihak sepakbola Indonesia mencarikan pelatih dari negeri luar untuk melatih anak-anak muda Indonesia. Cukup instans dalam waktu 10 bulan berharap team kita bisa terbentuk dan menghasilkan yang terbaik tapi bagi pemerintah lain lagi.

Dari pihak kami dan pemerintah berkomitmen untuk tidak saling curigai dan mengurus urusan satu sama lain, dan sekrang mereka melakukannya. Melewati Menpora, mengurusi masalah non teknis yang dibersamainya timan U-19. Adapun perbaikan jalan dll diserahkan ke menteri khusus untuk mengerjakan hal tersebut.

=Pandemi Covid-19=.

Dalam dua pekan terakhir, muncul keraguan tentang jadi-tidaknya acara tersebut
dilaksanakan tahun depan. Kegalauan yang mengusik persiapan Indonesia sebagai
tuan rumah itu hadir karena beberapa faktor, antara lain, masih tinggi penyebaran
pandemi covid-19.

Pihak sana tentu tidak sembarangan merilis kalender kegiatan sepakbola tahun 2021 tanpa
jadwal acara tersebut.

Yang menarik adalah antara kami dan pemerintah menjadikan pademi covid-19 untuk
kepentingan masing-masing, dan bertolak belakang. Disis lain Pemerintah justru mengizinkan acara pemilihan daerah. Sedangkan jauh
sebelumnya, di bulan Oktober, kami sudah meminta agar kompetisi Liga 1 dan 2 yang
tertunda bisa digelarkan lagi, tetapi pemerintah lewat Polri tidak memberikan ijin
keramaian.

POLRI menolak atas izin untuk penyelenggaraan ajang kompetisi sepak bola terbesar ini. Pertama karena masih terdapatnya covid-19. Walaupun adanya covid tapi tidak memberhentikan acara pemilihan umum, tapi untuk acara terbesar ini, pihak sana menolak.

Disisi lain, pelatih, pemain ingin menyelenggarakan acara ini, ingin mengup kembali permain ini dan juga tanah air. Tetapi pemerintah juga tidak rela kalau penyelenggaraan ini dilaksanakan terlebih lagi sedang pandemi seperti ini. Disisi lain Pemerintah juga ingin.

Hal tersebut memantik ketidak percayaan pihak luar terhadap Indonesia dan kami untuk menyelenggarakan ajang ini di Indonesia walaupun dalam situasi pandemi. Dan, jika memang demikian, maka kalau sampai pihak luar akhirnya menunda atau membatalkan acara tersebut tahun depan, maka pemerintah ikut bertanggung
jawab dengan pembatalan tersebut.

Walaupun begitu, pihak luar juga tidak tega untuk mengorbankan nyawa dalam komptesisi di tengah pandemi ini walaupun sepak bola ini jiwanya pihak luar. Seharusnya pihak Indonesia bisa mengambil sikap yang cepat dalam menangani ini dan tidak berada diposisi abu-abu.

Jikalau seperti itu gimana dengan acara pemilihan dibulan selanjutnya? Seharusnya adanya tindakan dalam hal tersebut. Seharusnya dalam hal tersebut meneteri bisa meyakinkan.

Indonesia harus memberikan trust yang nyata kepada pihak luar. Dalam hal ini pemerintah pun harus meyakinkan pihak luar kalau tanah air ini dapat menyelenggarakan sepak bola seperti hal nya yakin dalam penyelenggaraan pemilihan daerah.

=Mari Berandai=

Semua pemangku kepentingan sebaiknya bahu-membahu bekerja keras dari sekarang
untuk menggolkan acara tersebut. Terlalu mahal harganya kalau sampai kegiatan
tersebut dibatalkan. Sudah terlalu banyak pengorbanan, baik materi maupun tenaga
dan waktu yang dicurahkan demi suksesnya kegiatan tersebut. Masih bisa terpantau pihak pemerintah masih memantau pihak penyelenggara acara ini dan terus mengawal mereka.

Sudah beberapa kali Presiden mengajak rapat terbatas dengan mereka, hanya untuk
mengetahui perkembangan terkini. Pihak menteri ada yang ditugaskan sebagai ketua panitia penyelenggara, tapi sampai saat ini belum terbentuknya panitia penyelenggara alhasil belum terlihat aksi nyata dalam hal tersebut. Seperti yang paling sederhana seperti adanya kampanye acara tersebut tetapi jauh dari kata iya, sangat minim. Pdahal jika nanti terselenggara bakalan ada jutaan turis yang menyaksikan.

Namun, jika boleh berandai-andai bahwa acara tersebut tidak jadi dilaksanakan
tahun depan, maka pertanyaan paling mengemuka adalah, pertama: “Sudah siapkah
mereka mempertanggungjawabkan semua biaya subsidi sebesar Rp 56 miliar dari
pemerintah yang bakal diaudit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan)”?

Halaman: 1 2

Esports: SMKN 13 Depok Juara Piala Pelajar 2020

Peran Masyarakat serta Eksistensi Digital Forensik dalam Memerangi Hoaks